www.solusikeluargaharmonis.com

Menganalisa Risiko Bisnis Ternak Ikan Nila

No comment 922 views

Sepertinya paling mudah mencari tips bisnis ternak ikan nila. Namun, tidak banyak yang mau bercerita tentang risiko menjalankan usaha budidaya ikan nila ini.

Padahal, logikanya, dengan menganalisa risiko, maka secara tidak langsung Anda sedang berupaya untuk memaksimalkan profit yang bisa Anda dapatkan dari berbinis ikan nila ini.

Sebelumnya, mungkin ada pertanyaan di benak Anda mengapa banyak sekali yang berani membuka usaha berternak ikan nila.

Namun, Anda juga harus tahu kebutuhan ikan nila ternyata kurang. Artinya, lebih banyak permintaan daripada suplai. Dari fakta ini, bisa saja dibuat kesimpulan bawasannya para pebisnis yang membudidayakan ikan nila ini tidak mampu memaksimalkan hasil budidaya yang mereka lakukan. Atau, mungkin saja jumlah pembudidaya ikan nila belum terlalu banyak sehingga hasil panen ikan nila belum bisa memenuhi permintaan.

Oleh sebab itu, ada dua hal yang harus Anda lakukan. Yang pertama, serius untuk menekuni bisnis berternak ikan nila ini. Dan yang kedua, kenali risikonya agar Anda bisa panen ikan nila secara maksimal.

Kenapa Sebaiknya Berternak Nila?

Sebenarnya, ada banyak sekali opsi untuk bisnis peternakan. Anda bisa berternak ikan lele, ayam potong, ayam bertelor, dan lain sebagainya. Tentu pilihan tersebut harus berdasarkan apa yang Anda sukai dan apa yang Anda yakini mampu untuk dijalankan.

Namun, jika pilihan Anda pada bisnis budidaya ikan nila, maka pilihan Anda sangat tepat sekali. Selain pertimbangan keyakinan serta kemampuan yang Anda miliki, ada dua alasan lagi yang harus Anda ketahui.

Yang pertama, budidaya ikan nila itu tidak merepotkan. Hal ini disebabkan nila merupakan jenis ikan omnivore. Jadi, ikan ini memakan apa saja. Bahkan, dedaunan yang ada di sekitar rumah bisa Anda jadikan makanan untuk ikan nila.

Alasan kedua yang paling penting adalah bawasannya ikan nila tidak mudah sakit. Banyak sekali cerita dari peternak ikan di mana hasil panennya hanya di bawah 70% dari bibit yang digunakan. Anda tahu kenapa? Karena ikan seperti lele itu mudah sekali terkena penyakit. Akibatnya, banyak ikan yang mati dan hasil panennya pun sedikit.

Hal ini kemungkinan kecil terjadi jika Anda memilih untuk beternak ikan nila. Pasalnya, ikan nila mampu memperkuat sistem kekebalan tubuhnya sendiri. Jadi, walaupun cuaca berubah begitu ekstrim, ikan nila tetap mampu bertahan.

Dari penjelasan singkat tersebut, semakin yakin beternak nila, bukan? Selanjutnya, ketahui dulu apa saja risiko yang bisa terjadi. Dengan mengenali risiko, maka Anda bisa memaksimalkan profit yang bisa Anda dapatkan dari berternak ikan nila ini.

Risiko Yang Harus Diantisipasi Ketika Beternak Ikan Nila

Beternak nila kelihatannya mudah. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang membudidayakan ikan nila bisa dikatakan gagal. Kenapa? Setidaknya ada tiga hal yang membuat mereka gagal.

Bobot Ikan Tidak Ideal

Berapakah bobot ideal ikan nila sehingga sudah bisa dijual? Bobot ideal ikan nila yang siap dijual rata-rata kurang lebih 300 gram. Dan jika Anda membeli bibit ikan nila sektiar 10-20 gram per ekor, ikan akan mencapai bobot ideal dalam waktu kurang lebih 4-5 bulan. Sayangnya, banyak peternak yang gagal membuat ikan nila mencapai bobot tersebut.

Apa permasalahannya? Ada banyak sekali faktor penyebabnya. Ada kemungkinan pakan yang diberikan tidak mengandung protein yang cukup. Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika peternak salah memilih benih. Dalam pemberian pakan, harus diperhitungkan juga sample saat menentukan berat badan ikan, yaitu sebagai patokan ketika pakan diberikan.

Banyak Ikan Nila Yang Mati

Sebenarnya wajar jika 10-20% ikan nila yang mati. Hanya saja, jika angkanya di atas 20%, maka itu artinya ada masalah serius.

Memang ikan nila lebih tahan terhadap cuaca ekstrim daripada ikan yang lain. Daya tahan tubuhnya pun sangat kuat. Namun, hal tersebut tidak membuat ikan nila bisa saja mati. Yang perlu diperhatikan adalah ketika jumlah ikan nila yang mati sangat banyak.

Perhatikan perairannya. Terkadang air yang tercemar bisa bisa membuat ikan nila stres dan akhirnya mati. Hama juga bisa menjadi penyebab yang lainnya. Meskipun daya tahan tubuhnya kuat, jika hama menyerang, bukan tidak mungkin banyak jumlah ikan nila yang mati.

Harga Pakan Yang Tinggi

Untuk bisnis beternak ikan nila profesional, tentu saja Anda tidak hanya bisa mengandalkan dedaunan sebagai pakan meskipun ikan nila juga mau makan dedaunan. Harus ada tambahan gizi dari pakan yang kandungan proteinnya tinggi. Hal ini diperlukan agar dalam kurun waktu 4 atau 5 bulan, Anda sudah bisa memanen.

Dengan mengetahui risiko yang sering dialami oleh para pembudidaya ikan nila tersebut, diharapkan Anda tidak mengalami hal yang sama.

Beberapa Hal Yang Harus Anda Pertimbangkan

Ini juga sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan risiko yang bisa terjadi. Ada beberapa hal yang perlu menjadi hal yang perlu Anda pertimbangkan ketika ingin membudidayakan ikan nilai.

Yang pertama mengenai lokasi. Idealnya, ikan nilai dibudidayakan di daerah yang memiliki perairan yang bersih dan jernih. Biasanya, daerah di ketinggian sekitar 300 sampai 600 meter di atas permukaan air laut cocok untuk dijadikan tempat membidadayakan ikan nilai. Namun, sekali lagi, kualitas air juga harus diperhaikan.

Pasalnya, sekarang ini tidak sedikit daerah pegunungan yang kualitas airnya sudah kurang baik digunakan untuk membudidayakan ikan nila.

Yang kedua adalah masalah kebersihan. Media apa yang akan Anda gunakan? Sebenarnya yang paling bagus adalah media tanah.

Artinya, Anda menggali tanah dan langsung mengisi dengan air. Ini dianggap yang terbaik karena tanah akan memberikan sumber makanan yang dibutuhkan oleh ikan secara alami.

Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang kebersihan, media yang bagus untuk ikan nila adalah terpal. Dengan menggunakan terpal, Anda bisa dengan mudah menguras dan membersihkan tempat di mana Anda membudidayakan ikan nila.

Dalam hal ini, harus dipahami bawasannya tidak sedikit ikan nila yang mati karena habitatnya yang kotor. Dengan menggunakan terpal, Anda bisa lebih mudah memantau bagaimana kebersihkan air dan media yang Anda gunakan untuk membudidayakan ikan nila.

Yang terakhir dan mungkin yang sangat penting adalah bibit ikan nila. Tidak masalah jika Anda harus mengeluarkan uang yang sedikit lebih banyak namun Anda mendapatkan bibit ikan nila yang bagus.

Modal yang Anda keluarkan tersebut lebih sedikit daripada Anda harus menunggu panen hingga lebih dari 5 bulan. Anda bisa bayangkan sendiri berapa jumlah pakan yang harus Anda berikan.

Dengan memilih bibit ikan nila yang baik, dalam kurun waktu 5 bulan bahkan hanya 4 bulan saja, Anda bisa memanen ikan nila tersebut dengan berat yang ideal.

Jadi, sudah siapkan Anda untuk menjalankan bisnis ternak ikan nila?

www.solusikeluargaharmonis.com
author
No Response

Leave a reply "Menganalisa Risiko Bisnis Ternak Ikan Nila"